satu:
Aku datang siang ini di tanah, flamboyan merah jambu, atap rumah dan perempuan di sudut balkon. Gerimisku menderas dan derainya menyerupai musik. Lihatlah betapa alam bersih kembali. Daun-daun menjadi lebih hijau, tanah menyebar wangi dan flamboyan itu memerahi udara.
Tapi perempuan di sudut balkon tidak begitu. Mula-mula wajahnya tersenyum kemudian ia menatap saja kosong dan jauh. Sesekali ia menjulurkan tangan menangkap deras tetesku lalu membuang napas seolah aku menyesakkan dadanya.
Perempuan itu membuatku gemas, seolah salahku lah sampai ia melihat wajah kekasihnya di mana-mana.
Kudengar ucapnya lirih "barangkali akan terbasuh juga rindu yang terlalu tebal untukmu"
Aku datang siang ini di tanah, flamboyan merah jambu, atap rumah dan perempuan di sudut balkon. Gerimisku menderas dan derainya menyerupai musik. Lihatlah betapa alam bersih kembali. Daun-daun menjadi lebih hijau, tanah menyebar wangi dan flamboyan itu memerahi udara.
Tapi perempuan di sudut balkon tidak begitu. Mula-mula wajahnya tersenyum kemudian ia menatap saja kosong dan jauh. Sesekali ia menjulurkan tangan menangkap deras tetesku lalu membuang napas seolah aku menyesakkan dadanya.
Perempuan itu membuatku gemas, seolah salahku lah sampai ia melihat wajah kekasihnya di mana-mana.
Kudengar ucapnya lirih "barangkali akan terbasuh juga rindu yang terlalu tebal untukmu"
21/11/2005
dua:
Hujan yang jatuh kabur menjauh
flamboyan merah jingga runduk, kembangnya gugur satu per
pria memainkan hujan, berkecipak di pelataran lalu pergi
Hujan yang jatuh kabur menjauh
flamboyan merah jingga runduk, kembangnya gugur satu per
pria memainkan hujan, berkecipak di pelataran lalu pergi
"Tangkap ribuan intan itu",
butiran hujan tertahan di ambang atap sebelum akhirnya berlari pergi
guntur mampir bawa larik cahaya
sekejap langit koyak lantas hitam mendung menggantung lagi
butiran hujan tertahan di ambang atap sebelum akhirnya berlari pergi
guntur mampir bawa larik cahaya
sekejap langit koyak lantas hitam mendung menggantung lagi
aku ingin menangkap hujan ini dan
menyimpan derainya untukmu
mumpung ia masih menderas, mumpung langit
masih terang
nanti kau akan bisa menguntai permatamu sendiri dari tetesnya dan mengalungkannya
di leherku - hadiah terindah darimu
menyimpan derainya untukmu
mumpung ia masih menderas, mumpung langit
masih terang
nanti kau akan bisa menguntai permatamu sendiri dari tetesnya dan mengalungkannya
di leherku - hadiah terindah darimu
hujan ini membuatku gentar tapi rinainya
terasa renyah, denting jatuhnya mirip musik. Dengar, ini lagu hujan
halaman menggenang, dedaunan kuyup membasah dan
lihat, dalam ruang hatimu malam datang lebih awal sampai
lampu-lampu harus dinyalakan
maka nyalakanlah, ajak cahayanya menikmati hujan bersamamu
terasa renyah, denting jatuhnya mirip musik. Dengar, ini lagu hujan
halaman menggenang, dedaunan kuyup membasah dan
lihat, dalam ruang hatimu malam datang lebih awal sampai
lampu-lampu harus dinyalakan
maka nyalakanlah, ajak cahayanya menikmati hujan bersamamu
hujan jangan berhenti
tak peduli bumi tak sanggup mewadahi lagi
mumpung aku masih rindu
mumpung cinta kian kental
jangan pergi temani aku
mumpung kau belum disini
tak peduli bumi tak sanggup mewadahi lagi
mumpung aku masih rindu
mumpung cinta kian kental
jangan pergi temani aku
mumpung kau belum disini
0 Response to "Dua Sajak Hujan"
Post a Comment